Kamis, 21 Agustus 2008

WHO AM I?

"Who amI?" Hmm, kalimat yang mudah banget diucapin tapi sulit untuk diinterpretasikan bagi setiap orang. Kelihatannya hal yang sepele untuk mendeskripsikannya,tapi coba deh bilang ke diri kita, "Who am I?" wah, seantero dunia ini ga akan bisa menjawab pertanyaan itu sendiri. bingung kan?

Who am I? merupakan sesuatu yang empiris. Artinya nilai kebenarannya berdasarkan ruang dan waktu. Mungkin saat ini, ketika kamu mananyakan kepada dirimu sendiri, "Who am I?", lalu kamu menjawab, "Oh.. saya miss FK UGM" atau "Saya calon anak mantu presiden" atau jawaban deskriptif lainnya, hal tersebut mingkin saja saat itu benar. Dilain waktu, hal tersebut bisa saja takberlaku lagi.

Kita ambl contoh jawaban yang pertama. misalkan si X masuk FK UGM dan terpilih menjadi miss FK UGM 2008/2009, lalu saat ia bersolek di depan kaca pada rentang waktu tersebut, ia bertanya pada dirinya sendiri, "Who am I?" dan menjawab "saya miss FK UGM". Hal tersebut saat itu memang bernilai benar, tetapi ketika ia masuk usia manula dengan muka keriput dan bertanya lagi pada dirinya sendiri "Who am I?", jawaban tadi tentu tidaklah relevan lagi.

"Who am I?" pertanyaan yang sebenarnya tidak bisa dijawab oleh kita sendiri. Kita butuh orang lain untuk menjawab pertanyaan itu. Kita harus bisa melakukan refleksi tentang diri kita, dan penilaian yang terbaik ialah ketika kita mendapatkan jawaban yang objektif, bukan hanya dari sudut pandang kita sendiri.

Everybody must be himself. Seseorang yang bisa menjawab pertanyaan "Who am I?" tentunya seseorang yang memiliki jatidiri. Orang tersebut bukanlah orang yang plinplan atau bahkan tidak punya tujuan dalam hidupnya. Nah sebagai tenaga medis, tentunya kita harus memiliki keprbadian yang baik. Kitalah penerus bangsa. Masa depan bangsa ada ditangan kita. Bagaimana kita bisa membangun negara kita ini, jika kepribadian kita sendiri bobrok?

Banyak hal yang harus ditempuh untuk membentuk karakter yang baik dalam diri kita. Karakter tersebut menentukan sifat-sifat kita , tingkah laku kita, serta pola pikir kita. Hal tersebut kemudian melekat pada diri kita sehingga orang lain bisa melihat karakter kita. Nah, jatidiri kita terbentuk dari karakter kita; bagaimana kita menjalani hidup ini dengan segala yang ada pada diri kita. Lalu, bagaimana cara membentuk karakter yang baik dalam diri kita?

Pertama, kita harus meminta petunjuk pada Sang Pelukis Kehidupan. IA melukis kita tentunya dengan tujuan yang indah. Kanvas yang IA pakai, yaitu dunia yang fana ini, tentulah kanvas yang harus kita isi dengan keindahan yang IA poleskan dalam setiap polesan perjalanan hidup kita. Mintalah petunjuk agar kita bisa mengetahui polesan itu yaitu berupa talenta yang IA anugrahkan dalam hidup kita, serta mengembangkannya sebaik mungkin.

Isilah hidup kita dengan hal-hal yang berguna. Mulai dari hal-hal yang kecil seperti belajar memasak, berkebun di halaman rumah, kursus bahasa, musik ataupun kursus lainnya, mengikuti organisasi, diskusi panel, dll.

Dengan demikian kita dapat mengasah bakat kita, dan mulai membentuk karakter kita. Namun jangan lupa, kita juga harus pandai mengatur waktu antara kuliah dengan kegiatan extra diluar kuliah dengan baik.

Belajarlah dari falsafah kehidupan yang dikemukakan oleh orang lain. Mungkin hal tersebut bisa menjadi sumber inspirasi kita untuk terus menerus membangun diri kita menjadi lebih baik dalam hidup. Ingat, karakter merupakan hal yang dinamis, yang dapat berubah oleh waktu. Kita tidak dapat memungkiri bahwa seseorang dapat berubah dalam hidupnya, tetapi arahkanlah perubahan dalam hidup untuk berkembang ke arah yang lebih baik

Dalam bangku kuliah, kita harus bisa membayangkan prospek profesi serta hidup kita kedepan. Berlatihlah menghadapi hal-hal yang mungkin akan terjadi berikutnya sebelum kita menghadapi medan sesungguhnya. Seseorang bisa karena biasa. Dengan membiasakan diri kita untuk melakukan hal-hal yang akan kita hadapi di dunia kerja nantinya, kita tentunya akan lebih siap, sehingga jati diri kita sebagai tenaga medis yang benar-benar berkompetenpun terbentuk.

Oleh karena itu, marilah kita mulai dari diri kita sendiri, dari hal-hal yang kecil dan dari sekarang untuk menjadi tenaga medis yang baik sehingga kedepan kita bisa membangun bangsa ini menuju bangsa yang sehat secara jasmani maupun rohani. Kelak jika kita telah mengabdi pada masyakarat, pertanyaan "Who am I?" akan dapat terjawab dari kepribadian kita sebagai tenaga medis yang baik. Let's start now!